PERAN SERTA KAUM AWAM DALAM PERTUMBUHAN GEREJA

Kongres Penginjilan Dunia di Manila (Lausanne II) yang diadakan pada tanggal 11 – 20 Juli 1989 belum lama berlalu, dan menimbulkan kenang- kenangan yang indah bagi para peserta.

Ada hal menarik dalam session pembukaan yang membawakan tema “Mandate of The Laity”, sebab pada saat itu theme leader bertanya kepada 4000 hadirin yang memadati auditorium Phillipine Convention Centre itu “Siapakah yang menjadi Kristen karena kebaktian Kebangunan Rohani?”. Jawaban atas pertanyaan itu adalah bahwa kira-kira 10 % hadirin berdiri dari duduknya. Kemudian pertanyaan itu disambung dengan : “Siapakah yang menjadi Kristen karena Kebaktian di Gereja?”, jawabannya adalah kira-kira 10 % hadirin berdiri dari duduknya. Menarik sekali jawaban yang diperoleh ketika ditanyakan : “Siapakah yang menjadi Kristen karena teman, guru, orang tua, saudara, atau penginjilan pribadi?”, ternyata ada sekitar 70 % dari hadirin berdiri dari duduknya!

Kenyataan itu sungguh mengejutkan, sebab rupanya pelayanan para Penginjil maupun Pendeta sekalipun cukup banyak hasilnya, ternyata kurang berdampak luas jika dibandingkan dengan peran Kaum Awam dalam membawa sesamanya untuk mau datang kepada Kristus dan mau hadir dalam Kebaktian Kebangunan Rohani dan Kebaktian Gereja! Lebih-lebih kalau dilihat bahwa mereka yang hadir itu semuanya adalah hamba-hamba Tuhan atau aktivitas-aktivitas Kristen yang menjadi utusan dari sekitar 172, berarti bahwa dampak pelayanan kaum Awam telah mampu membangunkan sebagian besar pelayan-pelayan Tuhan yang hadir di Lausanne II! Dan Kaum Awam rupanya menjadi “ujung tombak” (spearhead) penginjilan sebelum kemudian dilanjutkan oleh para Penginjil dan Pendeta!

1. Siapakah Kaum Awam Itu?

Pertanyaan di atas memang sering dipertanyakan, sebab pandangan umum memberi kesan rendah pada istilah “Awam ” yang sering diberi pengertian sebagai kelompok orang yang tidak tahu apa-apa, bodoh, bahkan dianggap dungu, ini dibedakan dengan kaum “Ahli” yang dianggap tahu banyak, pandai dan segala julukan penghormatan lainnya, tetapi benarkah pandangan populer demikian.

Dalam buku Ensiklopedia Indonesia kesan umum di atas juga terlihat sebab di dalamnya disebutkan bahwa Istilah “Kaum Awam” berasal dari bahasa Arab yang menunjuk pada orang biasa, bukan ahli, yang dibedakan dengan “Kaum Khawas” yang berarti kaum ulama, cendekiawan dan ilmuwan; tetapi disebutkan bahwa yang termasuk golongan kaum Khawas ini hanya bagian terkecil saja dari masyarakat, sedangkan bagian terbesar terdiri dari kaum Awam!

Dalam pengertian yang lebih luas, dan menelusuri kata-kata yang berkaitan dalam alkitab dan tradisi gereja, kita dapat melihat bahwa pengertian yang telah merosot itu sebetulnya semula mempunyai arti yang berbeda!

Hendrik Kraemer dalam bukunya menguraikan bahwa :

“Kata Yunani untuk orang awam adalah laikos; dalam bentuk Latinnya (laicus) kata itu telah memasuki bahasa Barat. Istilah itu adalah istilah agama sehingga “laicus” telah menjadi bagian dari tradisi besar Barat. Mula-mulanya kata itu berarti : menjadi bagian dari “laos”, yakni umat pilihan Allah, dalam Perjanjian Lama maupun Pernjanjian Baru. Dalam terang ini semua anggota Gereja adalah “laikoi” dan hanya atas dasar ini mereka bisa mendapatkan kedudukan- kedudukan lain, yakni kedudukan-kedudukan yang lebih spesifik. Perlu disebut disini bahwa kata Inggris “lay”, dalam arti asli keagamaannya sudah mempunyai nasib yang sama dengan istilah-istilah Alkitabiah dan agamani lainnya yang punya arti penting (umpamanya “panggilan” dan “pelayanan”), yakni bahwa kata-kata itu sudah disekularisasikan sama sekali. Dalam pemakaian sehari-hari sekarang kata Inggris “lay” berarti: tidak memenuhi syarat untuk berbicara maupun memberi keputusan dalam berbagai-bagai lapangan ilmu pengetahuan, jadi kata itu mengandung arti “tidak mengetahui, tidak ahli”.

Sebagai akibat dari konflik antara Gereja Katolik dengan masyarakat modern, dinegeri-negeri Latin “laique” mempunyai arti “anti-pejabat Gereja”, “anti-agama”, negara bersikap netral dalam soal-soal agama”. Dalam bahasa Yunani klasik ada juga istilah untuk “orang awam” yang berarti: orang yang tidak mempunyai jabatan resmi atau orang yang tidak mempunyai pendidikan. Kata itu, idiotes, lebih dalam jatuhnya dari pada kata laicus, seperti ternyata dalam kata Inggris” idiot”. Kita dapat melihat kata itu dalam Kisah Para Rasul 4:13 dalam arti “tidak berpendidikan”, “tidak berkebudayaan”.

Dalam abad pertama pun arti “laos” dan “laikos” sudah menyimpang dari arti aslinya di Perjanjan Baru. Sebabnya yang terutama, terlepas dari pemakaian istilah itu secara profan dalam masyarakat pada waktu itu, ialah munculnya golongan pejabat-pejabat jemaat yang ditahbiskan sebagai “Status” tertutup terhadap “laos”, orang banyak; yakni anggota- anggota jemaat biasa. Bapa-bapa Gereja Latin memakai istilah “pleb”. Liturgi-liturgi, yang sebagai tata-cara kebaktian disusun oleh pejabat-pejabat Gereja atau imam-imam, memakai istilah “laos” dan “populus” untuk menyatakan jemaat dalam membedakannya dari pejabat yang memimpin kebaktian. Istilah lain yang dipakai dalam Perjanjian Baru untuk seluruh Gereja ialah “adelphoi”, saudara-saudara.

Dalam dokumen-dokumen yang kemudian tentang struktur dan tata Gereja, kita melihat perubahan yang sama terhadap “saudara-saudara” seperti yang terjadi terhadap “laos”. Dengan begitu, yang dimaksud dengan “saudara” ialah jemaat untuk membedakannya dengan para uskup dan diaken. Klement dari Roma dalam suratnya kepada orang-orang Korintus pada tahun 95 A.D. sudah memakai istilah “laikos” bagi anggota-anggota jemaat biasa “(Theologia Kaum Awam, halaman 37 – 38).

Dari uraian di atas jelas terlihat bahwa arti “Laos” sebagai” Umat Allah dalam sejarahnya telah mengalami kemerosotan dan sudah tidak lagi mencerminkan arti semula; tetapi kembali Hendrik Kraemer mengingat pentingnya kita mengerti arti sebenarnya dari istilah “kaum awam” dimana dikatakan bahwa:

“Sekarang kita dapat membahas apa yang kita sebut… tentang asal kata Inggris “laity” dari “laikos”, yang berarti milik. “laos”, umat, yakni umat Allah. Kata “laos”, sebagai umat Allah, dipakai untuk Israel untuk menyatakan hubungan istimewa antara Allah dengan umatNya. Dalam Perjanjian Baru kata itu berarti umat Allah yang terdiri dari orang-orang Yahudi dan bukan Yahudi. Sebenarnya istilah : “laikos” tidak terdapat dalam Alkitab, tetapi artinya jelas, yakni mengenai “laos”, umat Allah. Itu adalah suatu gelar yang terhormat.

Jadi pertama-tama “laos” berarti persekutuan orang yang beribadat. Gelar yang terhormat, gelar sebagai bukti karunia Allah …gelar “umat Allah” untuk keseluruhan Gereja sangat penting untuk mengerti Gereja.

Dalam Perjanjian Baru istilah itu dipakai untuk masyarakat Kristen, Yahudi dan bukan Yahudi. Sama seperti dalam Perjanjian Lama, dalam Perjanjian Baru juga pemilihan oleh Allah itulah yang menjadi dasarnya (Efesus 1:3-10 sangat menekankan hal ini). Orang-orang Kristen mempunyai nama-nama seperti: orang-orang Kudus (kewajiban Israel dalam Perjanjian itu ialah untuk menjadi “umat kudus”) yang dipanggil (kletoi). Gereja adalah persekutuan dari orang-orang yang “dipanggil keluar dari dunia (ekklesia) 1Petrus 2:9 adalah ayat klasik dalam hal ini (kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus). Tepat seperti dalam Perjanjian Lama, Yahweh mengingini Israel sebagai Umat KudusNya, yakni umat yang mengakui Dia sebagai pemiliknya, Persis seperti itulah Gereja” (Theologia Kaum Awam, halaman 116-117).

Tepat seperti uraian di atas, maka arti “kaum Awam” tidak lain adalah “seluruh umat Allah” yang menerima bagian sama dalam Kerajaan Allah, dan tidak membedakan apakah ia menjabat sesuatu (pendeta atau penginjil) atau jemaat biasa, semua yang “terpanggil” adalah “laos” umat Allah!

Dengan berlandaskan pengertian yang demikianlah seharusnya kita memandang kaum Awam sebagai kesatuan umat Kristen yang mempunyai tanggung jawab dalam pelayanan, sekalipun tidak dapat disangkal bahwa di antara kaum Awam Itu ada yang diberi talenta tertentu dan tugas jabatan tertentu.
2. Potensi Kaum Awam Masa Kini

Berbeda dengan pandangan mengenai Awam sebagai kaum bagian terkecil, maka kita melihat pada masa kini gerakan kaum Awam bahkan merupakan bagian terbesar. Bila dahulu pelayanan gereja hanya dilakukan oleh bagian terkecil kaum Awam (=umat Allah), maka masa kini kita melihat potensl yang luar biasa telah ditunjukkan oleh bagian terbesar kaum Awam itu! Sebagai bukti yang jelas kita melihat kenyataan yang terjadi di forum Lausanne II seperti yang digambarkan di atas dimana bahkan peran ulama menurut pengertian Awam/Khawas dikalahkan dalam perbandingan dengan peran umat (dalam pengertian = bukan ulama), dengan demikian bila kita menerima pengertian kaum Awam sebagai gabungan kaum ulama dan kaum umat dalam pengertian yang lama, dapat dilihat betapa besar peran yang sudah diberikan oleh kaum Awam dalam pertumbuhan gereja sepanjang abad!

Masa kini kita melihat banyak potensi sudah ditunjukkan oleh kaum Awam Kristen dalam kehidupan bergereja.

Dari segi “jumlah” (kuantitatif) kita melihat kaum Awam dapat menjadi potensi yang luar biasa sebagai laskar Kristen, sebab bila yang termasuk jumlah besar itu dibangunkan oleh Roh Tuhan, betapa luar biasa kemampuan “laskar Kristen Awam” itu! (bandingkan dengan Yehezkiel 37, khususnya ayat 10).

David Barret dalam bukunya World Class Cities And World Evangelization (Appendix E), mengemukakan bahwa dari jumlah penduduk dunia yang jumlahnya sekitar 4,78 milyar di tahun 1985, umat Kristen berjumlah 1,55 milyar, itu berarti bahwa persentasi jumlah orang Kristen dari penduduk dunia besarnya 32,4 % atau satu dari tiga penduduk dunia adalah orang Kristen. Maka bila jumlah ini sebagian besar mempunyai iman yang hidup, betapa besar potensi dan dampak yang bisa dihasilkan!

Banyak gereja mempunyai jumlah jemaat yang banyak, tetapi bila kita melihat persentasi mereka yang terlibat dalam pelayanan, kelihatan bahwa persentasi mereka yang ikut serta dalam pelayanan masih kecil sekali! Hal ini umumnya terjadi pada gereja-gereja mapan dan tradisional di mana kehidupan Kristiani hanya terbatas pada ritus agama dan tradisi saja, tetapi bila kita menengok kepada gereja-gereja yang hidup, kita melihat bahwa banyak kaum awam, sudah berperan serta dalam pelayanan dan sangat potensial sekali!

Secara “kualitatif” kaum Awam masa kini mempunyai beberapa potensi seperti financial, intelektual, professional, dan juga teologikal yang bila dikembangkan dapat merupakan kekuatan pelayanan yang luar biasa!

Bila pada masa dahulu, sebagian besar jemaat terdiri dari kaum papa, masa kini kita lihat bahwa banyak jemaat yang mempunyai potensi finansial yang lebih baik. Jemaat kota besar pada masa kini sebagian besar jemaatnya terdiri dari golongan menengah yang boleh dikata cukup dalam kehidupan. Bila potensi finansial ini dapat di dayagunakan, betapa besar peran yang bisa diberikan golongan yang makin membesar ini dalam pelayanan. Memang disayangkan bahwa umumnya potensi finansial lebih banyak diberikan untuk pengembangan fisik berupa pembangunan gedung-gedung mewah, hal-hal mana merupakan modal tidak bergerak yang statis, yang dapat menghambat kemajuan Injil sebagai kekuatan pengubah dunia, karena itu bila kemampuan finansial itu dapat diarahkan kepada pelayanan Injil, betapa luar biasa dampak yang bila dihasilkan olehnya!

Tidak dapat disangkal bahwa potensi “intelektual” banyak dijumpai di dalam gereja masa kini terutama di gereja-gereja kota besar! Dibandingkan dengan masa lalu di mana umumnya kaum Awam terdiri dari golongan miskin dan kurang terdidik sehingga menimbulkan pengertian “awam” yang sumbang, masa kini tidak sukar dijumpai banyak mahasiswa, sarjana, baik dokter, insiyur, doktorandus, sarjana hukum, dan para magister (S2), maupun para Doktor (S3) di kalangan jemaat umum. Tetapi sayang sekali bahwa potensi demikian kurang digali oleh gereja- gereja!

Sudah bukan menjadi rahasia umun lagi kalau seorang sarjana dan kaum intelektual yang umumnya hidup di kalangan menengah ke atas dalam masyarakat, memang merupakan primadona dalam organisasi-organisasi gereja, hanya sayang potensi mereka hanya diarahkan untuk digali uangnya atau dijadikan majelis jemaat yang umumnya hanya mengerjakan pekerjaan administrasi dan rapat-rapat gerejawi saja! Bukankah dunia membutuhkan para pemikir Kristen yang mampu menjawab tantangan moderenisasi sesuai dengan bidang-bidang ilmu pengetahuan yang dimiliki kaum intelektual itu?

Apakah jawab Kristen dalam menghadapi tantangan moderenisasi masa kini, misalnya soal Hak-hak Asasi Manusia, Kelangkaan Energi dan Ekologi Lingkungan Hidup, Teknologi Tinggi dan Dampaknya, Jurang Kaya Miskin sebagai Problema Ekonomi, dan masalah AIDS dan Bio Teknologi seperti soal Bayi Tabung dan Euthanasia yang membutuhkan Jawaban para pakar “Intelektual Kristen”? Masalah-masalah Etika di dunia nyata merupakan tantangan untuk dipecahkan oleh para pemikir Kristen seperti soal Etika Bisnis, Etika Pembangunan, Etika Lingkungan dan lain sebagainya!

Kaum “profesional” baik berupa pengusaha atau pejabat merupakan potensi-potensi yang besar pula dalam berperan mengembangkan pelayanan Kristen, tetapi sama dengan golongan intelektual, golongan professional sering dimanfaatkan oleh gereja secara keliru, yaitu potensi uang dan pengaruh jabatan mereka! Padahal golongan professional merupakan ujung tombak pelayanan gereja di dunia profesional yang nyata. Tidak mudah pendeta dan penginjil masuk ke ruang-ruang rapat para eksekutif atau penentu kebijaksanaan (policy maker), tetapi para intelektual dan Profesional Kristen mempunyai kemudahan dan jalan masuk (akses) ke forum-forum demikian! Masa kini di banyak negara termasuk Indonesia agaknya sulit memasukkan tenaga misi asing yang berpredikat penginjil atau pendeta, tetapi predikat intelektual dan professional memudahkan tenaga misi demikian masuk secara resmi!

Kelompok lain yang punya potensi besar dikalangan Awam adalah golongan teologikal, yaitu kaum Awam yang mempelajari ilmu teologia dengan lebih khusus, baik dengan belajar sendiri, mengikuti kursus atau masuk ke sekolah teologia formal, disamping posisinya yang sudah ada sebagai intelektual atau professional! Bila dahulu pendidikan teologia terbatas pada golongan kecil kaum Awam yang mengkhususkan diri pada jabatan pendeta dan penginjil, mala kini pengetahuan teologi bukan hanya menjadi monopoli pendeta atau penginjil saja, tetapi menjadi hak semua kaum Awam.

Tepat seperti dikemukakan oleh John Naisbitt dalam bukunya berjudul Megatrends di mana dikatakan bahwa dari ke-10 kecenderungan Era Informasi yang melanda dunia dan dihadapi dewasa ini, tiga di antaranya menyebutkan desentralisasi, swadaya dan peran serta masyarakat sebagai kecenderungan dominan, hal mana tepat sekali dan sesuai dengan kecenderungan kebangunan kaum Awam Kristen dewasa ini khususnya dalam bidang pendidikan teologi.

Dewasa ini di Indonesia, di banyak kota dijumpai kaum Awam yang melengkapi diri dalam pendidikan teologia dengan belajar secara mandiri baik dengan bacaan-bacaan yang makin banyak, memanfaatkan Pelajaran-pelajaran kursus tertulls, maupun diperoleh, demikian pula Sekolah-sekolah Alkitab Malam (SAM) maupun Sekolah-sekolah Teologi yang membuka pendidikan off campus atau kursus pendek, sangat menarik banyak kaum Awam, termasuk golongan intelektual; hal ini merupakan potensi yang luar biasa untuk dapat menjadi kekuatan dalam masyarakat yang makin prulaistis ini.

Baik potensi yang bersifat kuantitatif maupun yang bersifat kualitatif tidak akan berarti banyak bila tidak disertai dengan semangat panggilan pelayanan yang sejalan!

Memang harus diakui bahwa kelemahan gerakan kaum Awam (sebagai keseluruhan umat Allah) bukanlah terletak pada jumlahnya yang banyak atau kemampuan finansial, Intelektual maupun teologikal, tetapi justru terletak pada semangat yang belum tumbuh di kalangan mereka! Ibarat kaum Israel yang mengatakan:

“Tulang-tulang kami sudah menjadi kering, dan pengharapan kami sudah lenyap, kami sudah hilang!” (Yehezkiel 37:11 ).

Demikianlah keadaan jumlah terbesar kaum Awam masa kini, sehingga Jumlah yang besar Itu maupun kemampuan-kemampuan yang dipunyai itu tidak menjamin dihasilkannya gerakan apa-apa!

Yehezkiel sendiri memberikan gambaran dalam fasal 37 Kitabnya bahwa rahasia yang diperlukan untuk gerakan rohani sehingga potensi kaum awam bisa benar-benar berdaya guna bagi pertumbuhan gereja sebagai kesaksian ke dalam dan pembangunan masyarakat sebagai kesaksian ke luar adalah keterbukaan akan kuasa Roh Kudus, dimana dikatakan bahwa:

“Aku akan memberikan RohKu ke dalammu, sehingga kamu hidup kembali dan aku akan membiarkan kamu tinggal di tanahmu. Dan kamu akan mengetahui bahwa aku, TUHAN, yang menyatakan dan membuatnya, demikianlah firman TUHAN” (Yehezkiel 37:14).

Memang akhir-akhir ini seakan-akan kelihatan bahwa Roh Tuhan bekerja di kalangan kaum Awam di mana-mana khususnya di lingkungan karismatik, tetapi kalau diamati dan diteliti dengan seksama, akan terlihat bahwa pertumbuhan kuantitatif yang terjadi dalam gerakan pertumbuhan gereja masa kini belum mencerminkan pertumbuhan kualitatif seperti yang dinubuatkan oleh nabi Yehezkiel dalam kitabnya fasal ke-37 itu! Kebangunan rohani dan gerakan-gerakan kebangunan rohani lebih mencerminkan sifat iman yang masih kekanak-kanakan yang masih berorientasi kepada kesukarelaan dan berkat-berkat serta mujizat yang masih ditujukan pada kepentingan diri sendiri, yang belum menggambarkan pertumbuhan kedewasaan iman yang diperlukan dalam pertumbuhan gereja yang kokoh serta berkualitas baik dan yang mampu menghasilkan kesaksian iman yang hidup dalam pembangunan masyarakat di sekelilingnya! Yehezkiel menggambarkan pertumbuhan Gereja Perjanjian Baru (bandingkan dengan Yehezkiel 36 dan Yeremia 31) sebagai kekuatan penginjilan yang hidup ibarat tulang-tulang kering yang mati yang menjadi tentara yang siap berperang dalam mempertahankan negaranya!
3. Gereja Di Dunia Moderen

Dunia moderen masa kini merupakan dunia yang sangat kompleks sekali, dan masalah-masalah yang dihadapi oleh dunia moderen jauh lebih banyak dan rumit dibandingkan dengan masalah-masalah yang dihadapi oleh gereja pada abad-abad sebelumnya!

Dunia moderen dicirikan dengan kemajuan dalam bidang telekomunikasi dan komunikasi yang merupakan tulang punggung Era informasi. Teknologi tinggal mempengaruhi segenap kehidupan manusia dan menuntut sikap yang baru menghadapinya. Ekonomi dunia sudah tidak lagi bisa dibatasi oleh dinding-dinding negara, sebab sekarang dunia merupakan global village yang saling bergantung. Kemajuan-kemajuan diatas memungkinkan banyaknya pilihan (multiple options) dan membuka kesempatan tumbuhnya materialisme, sekularisme dan rasionalisme dengan luar biasa!

Berbeda dengan Era Agraris dan Era Industri dimana pengaruh dan tantangan bagi gereja masih terbatas, maka dalam Era Informasi pengaruh itu luar biasa besarnya dan menuntut tanggapan apologi dari pihak gereja!

Sama halnya dengan ekonomi nasional yang tidak lagi bila dibatasi pada batas-batas negara, demikian juga gereja tidak lagi bisa membatasi urusannya pada dinding-dinding gedung gereja atau denominasi, atau bahkan dunia Kristen, sebab Era Informasi memungkinkan penyebaran modernisasi sampai ke lubuk jantung kehidupan gereja tanpa bisa dibendung. Tidak ada jalan lain bagi gereja bila ingin bertahan adalah dengan mengambil sikap aktif dalam menjawab tantangan itu, daripada bersikap defensif yang masa kini sudah mustahil bisa dilakukan, penetrasi budaya moderen sudah dengan mudah masuk kerumah-rumah jemaat melalui teknologi satelit!

Ada dua kecenderungan yang saat ini banyak terlihat di gereja-gereja di dunia moderen masa kini khususnya di Indonesia, yaitu apakah gereja itu cenderung menjadi “sekular”, yang menjadikan dirinya sama dengan dunia dan kehilangan identitas dirinya, atau gereja itu merupakan gereja “escapist” yang menjadi pelarian orang moderen dari ketegangan budaya moderen dan teknologi tinggi yang berada di sekelilingnya.

Gejala Sekular terlihat dari kehidupan gereja yang rutin dan suam, dimana kaum Awamnya hanya hadir dalam kebaktian Minggu tanpa ada peran serta apa-apa dalam kehidupan gerejawi. Selain kebaktian Minggu, tidak ada perbedaan apa-apa antara kehidupan jemaat dengan kehidupan dunia sekitarnya. Gejala Escapist terlihat dari praktek- praktek persekutuan yang lebih banyak diisi dengan acara-acara emosional seperti lawakan, dan luapan emosional seperti tarian, penyembahan, hura-hura, lawakan, dan luapan emosional lainnya (kritik Karl Marx: Agama demikian Ibarat candu bagi masyarakat) yang jelas terlihat misalnya dalam “ajaran kemakmuran”, tetapi kurang sadar dan berperan serta dalam pertumbuhan gereja yang berkualitas, dan lebih- lebih kurang menunjukkan keterlibatan dalam menghadapi masalah sosial dan pembangunan masyarakat! David Mc Kenna dalam bukunya “Megatruth” mengemukakan bahwa di kalangan Kristen masa kini banyak tumbuh sikap self-interest, secularism, materialism.

Kita melihat dari sejarah bahwa sejak dasawarsa 1960-an, dari tulisan- tulisan banyak pakar futurologi seperti Alvin Toffler (trio: Future Shock, The Third Wave, Previews and Premisses), John Naisbitt (Megatrends, Megatrends 2000), Andrew Grreley (Unsecular Man), dan jawaban-jawaban para pakar Kristen seperti Howard Snyder (Foresight), David Mc Kenna (Megatruth), dan John Stott (The Year 2000), dapatlah diketahui bahwa orang moderen memang dalam sejarah dunia baru pertama kala ini mengalami kekosongan spiritual yang luar biasa, dan ini membutuhkan kompensasi (Naisbitt: High-Tech/High-Touch), hanya kompensasi itu sering dicari manusia dalam bentuk “Air Sumur” berupa candu, agama-agama mistis, lagu-lagu psychedelic yang dalam Kekristenan diisi dengan ibadat-ibadat emosional, yang hanya merupakan kompensasi sesaat dan mencerminkan konsumerisme agama, tetapi firman Tuhan haruslah diberikan dalam bentuk “Air hidup” yang benar-benar menghasilkan Awam Kristen yang tidak haus lagi, bahkan akan mengeluarkan” Mata Air sampai Hidup yang Kekal (Yohanes 4).

Gereja di dunia moderen tidak lagi dapat menjadi kelompok ekslusif yang mengisolir dirinya dari tantangan kehidupan dunia kontemporer, tetapi gereja harus menyatakan dirinya secara nyata sebagai “Utusan Tuhan ke dalam Dunia”, dan hal ini bisa banyak dilakukan oleh kaum Awam yang memang dalam kehidupan sehari-hari berada “Di Dalam Dunia” sedangkan tugas gereja haruslah menekankan ajaran bahwa sekalipun demikian “Mereka bukan dari Dunia” (Doa Tuhan Yesus: Yohanes 17).

Tahun 2000 sudah di ambang pintu, dan menurut John Stott dalam bukunya The Year 2000, setidaknya ada 6 tantangan yang harus dihadapi oleh orang-orang Kristen, yaitu
1. Tantangan pertama berupa masalah Hak-hak Azasi Manusia yang masih merupakan masalah rawan di dunia. Pelanggaran hak-hak azasi manusia masih terjadi di mana-mama dewasa ini, ini menimbulkan pertanyaan yang serius mengenai keberadaan umat Kristen dalam situasi ini, dan apakah arti hak azasi manusia menurut Alkitab? Dan apakah yang dapat dilakukan oleh orang Kristen?
2.

Tantangan kedua adalah masalah Perlombaan senjata khususnya Nuklir yang banyak menimbulkan demonstrasi anti nuklir di mana-mana.

Bagaimana konsep Alkitab menghadapi perang? dan Bagaimana Yesus menghadapi situasi demikian? Perang makin kejam dan makin mengerikan karena persenjataan sudah memasuki era nuklir yang fatal! Bagaimana sikap kita?
3. Tantangan ketiga adalah masalah Jurang antara yang Kaya dan yang Miskin yang makin merunyamkan situasi moneter dunia. Soal hutang dunia ketiga, dan kemiskinan yang luar biasa di dunia ketiga menantang orang Kristen untuk memberi jawab! Apakah arti penatalayanan (stewardship) Kristen?
4. Tantangan keempat adalah masalah Energi dan Lingkungan Hidup yang sekarang menjadi masalah internasional. Sumber-sumber energi yang akan habis dan ekologi lingkungan menjadi penting karena polusi yang sudah keterlaluan, lapisan Ozon yang makin menipis telah menjadi masalah dunia keseluruhannya!
5. Tantangan kelima adalah masalah Teknologi Baru/Tinggi yang menimbulkan dampak-dampak yang luar biasa! Teknologi Baru/Tinggi di samping dampak positipnya ternyata juga mendatangkan dampak negatip seperti masalah pengangguran, dehumanisasi, kekosongan batin, dan juga memperdalam jurang kaya miskin!
6. Tantangan keenam adalah masalah Kekuasaan dan Demokrasi yang mulai menyadarkan manusia sejak Glastnost dan Perestroika di Rusia. Keterbukaan di Polandia, tetapi juga ketertutupan di Birma, Korea, dan Cina (Tien An Men)! Semuanya menantang sikap dan jawab Kristen!

Di samping ke-6 tantangan itu, tentu hal yang belakangan ini kita hadapi adalah masalah penyakit AIDS dan Bioteknologi yang benar-benar menuntut jawab gereja-gereja Kristen!

Menghadapi tantangan pelayanan di dunia moderen yang demikian berat, tidak mungkin gereja, sebagai terang dunia, bekerja tanpa peran serta kaum Awamnya, kaum Awam gereja harus bersatu dan bersama-sama berperan serta untuk ikut serta membangun dunia moderen, tetapi dengan visi dan misi Kristiani yang kuat, karena dunia membutuhkan jawab atas segala kemelut tantangan yang dihadapinya!
4. Posisi Kaum Awam Di Gereja

Banyak gereja masih menjadi Gereja pendeta atau Gereja penginjil artinya konsep kuno mengenal imam-umat masih banyak terlihat tetap banyak dipraktekkan sampai sekarang, maka bila kaum Awam sebagai suatu kesatuan ingin diharapkan peran sertanya yang potensial itu, gereja- gereja perlu banyak membuka diri akan kekurangannya.

Umumnya kaum Awam belum mendapat kesempatan luas dalam pelayanan gereja, terutama kaum profesional dan intelektual, dan andaikata dilibatkanpun, biasanya golongan ini tidak mendapat tempat selayaknya. Agaknya menyedihkan bila seorang dokter atau dosen hanya dibebani tugas-tugas yang kurang ditunjang intelektualitas dan professionalitasnya, seperti hanya harus berkunjung atau mengumpulkan dan menghitung uang persembahan (sekalipun ini juga perlu menjadi pelayanan yang seutuhnya).

Dilihat dari organisasi gereja, belum banyak gereja yang membuka diri pada kebutuhan profesionalisme dunia moderen yang lebih bervariasi.

Dari jabatan-jabatan formal, kita mengacu pada jabatan Perjanjian Baru yang masih berlatar belakang era agraris. Alkitab sendiri memberikan gambaran bahwa Tuhan dalam karya Keselamatannya menyesuaikan strategi pelayananNya sesuai dengan pertumbuhan budaya manusia; kalau semula diutus para Hakim yang kemudian ditambah para Nabi, Imam, dan Raja, maka pada masa Perjanjian Baru Yesus Kristus sendiri turun ke dunia, dan pelayananNya diteruskan oleh kaum Awam (laos) yang dltangani oleh para Episkopos, Presbyteros, dan Diakonos, sebetulnya masa kini variasi jabatan-jabatan itu perlu dikembangkan lagi! Jabatan-jabatan karismatis belum banyak dikembangkan dan diberi tempat dalam kehidupan berjemaat, dan andaikan adapun saat ini khususnya di persekutuan- persekutuan, jabatan karismatis masih dibatasi hanya pada karunia- karunia rohani seperti karunia lidah, nubuatan, kesembuhan, tetapi kurang memberi tempat pada karunia-karunia hikmat, pengajaran dan pelayanan!

Dalam organisasi-organisasi gereja masa kini yang sudah teratur, kita melihat sudah ada penanganan khusus berdasarkan pembagian umur dan seks, seperti Komisi anak, Remaja, Pemuda, Wanita Dewasa/kaum Bapa, dan dengan struktur demikian peran kaum Awam intelektual dan professional tidak akan tersalurkan aspirasinya. Di beberapa gereja sudah ada persekutuan alumni, tetapi masih berada di bawah komisi Pemuda yang tentu akan menimbulkan kecanggungan, karena itu menghadapi dunia moderen yang berkembang cepat, kita perlu cepat pula dalam usaha mengadaptasikan bentuk-bentuk pelayanan dan jabatan baru untuk dapat menampung pelayanan kaum Awam yang lebih luas dan bervariasi itu.

Umumnya aktivitas-aktivitas yang tidak tersalurkan itu akan dicari oleh kaum Awam di luar gereja/para church, misalnya timbulnya masa kini persekutuan-persekutuan kaum Awam seperti persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) di umumnya kampus-kampus Universitas, Persekutuan- persekutuan khusus mahasiswa seperti Perkantas, Para Navigator, Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia, dan lainnya di samping Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia yang sudah lama berdiri, dan dikalangan profesional dan intelektual kita lihat menjamurnya kegiatan-kegiatan persekutuan seperti Full Gospel Bussinessmen’s Fellowship, Persekutuan Alumni Kristen, Persekutuan Medis dan banyak lainnya.

Sudah tiba saatnya gereja perlu memberi posisi yang tepat bagi tumbuhnya golongan intelektual dan profesional yang sekarang merupakan mayoritas kaum Awam Gereja, apakah itu dalam bentuk Komisi khusus, Satuan Tugas atau bentuk-bentuk lain yang dapat menyalurkan kemampuan intelektual dan profesional golongan ini, sehingga dapat ikut berperan serta dalam menjawab tantangan yang dihadapi gereja sesuai dengan talenta yang Tuhan telah berikan kepada mereka!

Bila gereja dapat membuka diri dan meluaskan pelayanannya dengan mengikut sertakan para Awam jemaatnya secara umum, dan khususnya yang tergolong intelektual dan profesional dengan memberikan posisi yang tepat kepada mereka. maka pelayanan gereja akan berkembang dengan cepat dan relevan! Memang untuk menuju kesini akan dijumpai banyak kendala, misalnya otoritas para pendeta dan penginjil yang akan “berkurang” dan struktur organisasi yang belum menunjang, tetapi bila kita mau melangkah ke arah ini, tentunya pelayanan kaum Awam Kristen bahkan akan menolong para pendeta dan penginjil untuk lebih berspesialisasi dalam pelayanannya!

Kaum Awam tidak patut menjadi rival atau kompetitor dalam pelayanan jemaat tetapi dapat secara efektif menjadi supporter yang kuat (bahkan gratis!). Dan memberikan posisi kepada kaum Awam ini merupakan tindakan yang bijaksana, sebab bila tidak potensi kaum Awam ini akan tersalur melalui kegiatan di luar gereja!
5. Pembinaan Teologi Kaum Awam

Kaum Awam dalam menjalankan misinya membutuhkan perlengkapan teologis untuk menjadikannya kuat dan mempunyai dasar iman yang teguh, dan dalam hal ini memang gereja-gereja perlu memikirkan metoda yang tepat dalam melengkapi kaum awamnya.

Selama ini memang ada atau tidaknya pembinaan dari pihak gereja, tidak akan menghalangi kaum Awam untuk secara mandiri mempelajarinya, karena kaum Awam sudah mempunyai akses menuju studi yang mandiri, seperti misalnya dengan mendengarkan kaset-kaset kotbah, kaset-kaset dan video pelajaran, kursus-kursus tertulis, maupun kursus-kursus Alkitab pendek, tetapi bahaya dari studi mandiri demikian adalah kurangnya arah pengajaran yang jelas. Di sinilah gereja seharusnya menjadi benteng dalam memberikan dan mengarahkan ajaran yang benar.

Memang selama ini kekeringan rohani dan pengertian imani kaum Awam dapat dimaklumi bila dlihat bahwa ajaran katekisasi di beberapa gereja sebelum seorang anak layak dibaptis, hanya diberikan dalam waktu 6 sampai 12 bulan, bahkan di kalangan jemaat Pantekosta proses ini bisa lebih cepat lagi, maka bila kemudian kaum Awam gereja dibiarkan tanpa Pembinaan lebih lanjut, maka dapat dimengerti mengapa pelayanan kaum Awam gereja lesu sekali!

Seharusnya gereja memperhatikan perlunya pendidikan teologi untuk awam yang lebih sinambung sifatnya, sehingga seseorang dapat terus menerus melengkapi diri dengan pendidikan yang menumbuhkan imannya, khususnya pendidikan yang relevan sebagai jawaban atas tantangan dunia moderen yang berkembang cepat masa kini itu.

Di beberapa gereja sudah diadakan Sekolah Alkitab Malam (SAM), sekolah demikian dapat merupakan tempat pengkaderan yang balk sekali bagi pertumbuhan iman kaum Awam.

Selama ini memang harus diakui bahwa pembangunan gereja lebih banyak diarahkan kepada penyiapan ruangan berkumpul kebaktian dan kurang memberi dan meyediakan ruangan untuk pertemuan yang bersifat studi atau seminar, degan demikian jemaat kurang mendapat kesempatan untuk menggali pengatahuab Alkitab dan Teologi di komplek gerejanya. Alangkah baiknya kalau gereja mulai merintis untuk membuka ruangan – ruangan perpustakaan yang bukan hanya menyimpan buku saja, tetapi juga kaset kotbah, kaset- kaset dan video yang berisi pelajaran pembinaan dan memberikan kesempatan yang masih langka karena umumnya gereja hanya didatangi oleh jemaat Awan seminggu sekali pada saat ada kebaktian.

Gereja-gereja dapat membuka kesempatan bagi kaum Awam untuk memperdalam teologi dengan bekerja sama dengan sekolah-sekolah Alkitab/Teologi, dengan menciptakan paket – paket untuk Awam yang bersifat pendek dan populer.

Alvin Toffler dalam bukunya The Role of Education in The Future mengemukakan bahwa pendidikan universitas yang selama ini membutuhkan waktu yang lama sudah tidak lagi sesuai dengan Era informasi pasalnya, pendidikan umum memperlengkapi seseorang dengan bahan-bahan pengulangan masa lalu yang sifatnya teoritis dan lama, dan pada saat seseorang menyelesaikan pendidikan demikian, dan memasuki dunia praktek pendidikan yang diperolehnya tenyata sudah tidak siap pakai karena perkembangan pasar berubah jauh lebih cepat dibandingkan pendidikan formal; itulah sebabnya menurut Toffler, pendidikan moderen Peru berbentuk pendidikan singkat – singkat tetapi yang bersifat seumur hidup.

Masalah yang sama juga dihadapi pendidikan teologi formal, karena itu,pendidikan teologi kaum Awam yang sifatnya pendek dan dibagi dalam paket-paket tetai yang dilakukan seumur hidup akan lebih memenuhi kebutuhan nyata untuk melengkapi kaum Awam. Pendidikan pendek – pendek demikian juga harus mempunyai variasi yang banyak yang dapat dipilih oleh kaum Awam yang bersangkutan, dengan demikian relevansi pendidikan demikian dapat menunjang kebutuhan nyata yang diperlukan dan dihadapi oleh kaum Awam.

Kelompok-kelompok interes semacam quality circle di Jepang yang terkenal itu, yang merupakan unit diskusi dan konsultasl orang-orang yang menghadapi tugas dan masalah yang sama, dalam manajemen, ternyata merupakan kekuatan manajemen yang ampuh! Di gereja, hal yang sama bisa dicoba, mlsalnya dengan mengadakan kelompok-kelompok interes seperti kelompok hukum, etika, ekologi, lingkungan hidup dan lainnya, dan bila hal ini terlalu ideal untuk dapat dilakukan di gereja kecil dengan jumlah kaum awamnya yang relatif kecil, hal ini bisa diadakan dalam kerjasama dengan gereja-gereja lain. Kelompok-kelompok demikian dapat merupakan unit studi mandiri yang efektif.
6. Peran Serta Kaum Awam Dalam Pertumbuhan Gereja, Dan Pembangunan Masyarakat

Bagaimana sekarang peran serta kaum Awam dalam Pertumbuhan Gereja dan juga dalam Pembangunan Masyarakat ?

Secara tradislonal, saluran yang tersedia untuk peran serta kaum Awam dl gereja pada masa kini sangat terbatas, hanya dalam mengisi kegiatan seperti menjadi majelis jemaat , anggota komisi, anggota paduan suara, atau guru sekolah minggu, bahkan praktis kesempatan pelayanan mimbar tertutup bagi kaum Awam secara keseluruhan.

Diperlukan kreativitas dalam mengembangkan wawasan pelayanan gerejawi, dan wawasan ini dapat dikembangkan oleh kaum Awam yang sehari-pari bergumul di masyarakat dalam menghadapi tantangan sehari – hari.

Kaum Awam dapat didorong untuk mengembangkan pelayanan mimbar dan pelayanan-pelayanan gerejawi di gerejanya. Bila seorang Awam berbeban dalam membentuk kelompok pengusaha di lingkungan gereja, atau ingin membentuk kelompok alumni, prakarsa demikian perlu disambut dan dibantu sebagai peran serta Awam yang aktif. Fakta menunjukkan bahwa di banyak gereja, prakarsa demikian sering dianggap sepi.

Harus diakui, bahwa seperti diakui oleh Toffler mengapa universitas masa kini kurang bisa memenuhi tantangan era informasi adalah karena universitas secara umum masih mengikuti pola pendidikan gelombang kedua, demikian juga kita melihat bahwa pola kehidupan gereja – gereja masih banyak yang mengikuti pola pabrik gelombang kedua yang statis. Jemaat – jemaat di kota besar lebih-lebih harus mempunyai fleksibilitas dan daya adaptasi yang besar.

Dalam hubungan dengan pelayanan ke luar, sebagai terang dunia dan garam dunia, gereja ditantang untuk memberi jawab ( ber-apologia) menghadapi pertanyaan dan tantangan dunia di sekelilingnya secara umum, dan secara khusus pembangunan masyarakat yang membutuhkan partisipasi gereja dengan kaum Awamnya.

Menghadapi tantangan -tantangan yang diajukan oleh John Stott dalam bukunya The Year 2000, kaum Awam khususnya para proffessional dan intelektualnya ditantang untuk ikut melayani sebagai tangan-tangan gereja.

Kelompok-kelompok diskusi (quality circle) seperti yang digambarkan di atas, yang antara lain dapat mendiskusikan soal-soal yang menyangkut hak-hak azasi manusia, masalah ekologi dan lingkungan hidup, jurang kaya miskin, dan bahkan soal-soal dari AIDS, Bayi Tabung , sampai Narkotika, sekarang perlu dijabarkan pelayanan diakonia maupun marturia gereja!

Di kota-kota besar masalah Penggusuran dan Pemukiman kembali merupakan masalah yang aktual yang membutuhkan uluran tangan gereja dan pelayanan kaum Awamnya, demikian juga soal-soal seperti ketidakadilan atau pengangguran/PHK membutuhkan pula tanggapan kaum Awam gereja untuk diterjuni.

Memang pelayanan-pelayanan gereja dan kaum Awam selama ini cenderung hanya bersifat karikatif saja, padahal pelayanan demikian seharusnya merupakan pelayanan yang konstruktif. Kita tidak dapat hanya memberi makan mereka yang di PHK kan atau memberi penginapan saja kepada mereka yang tergusur, tetapl perlu dicarikan jalan keluar berupa konsep pemikiran dan tindakan, bagaimana masalah pengangguran struktural itu bisa ditanggulangi; kita juga tidak boleh dan tidak jujur bila hanya sekedar menyalahkan mereka yang berzinah maupun melakukan perbuatan homoseksual, dan mengutuk nasib mereka yang terkena AIDS, tetapi kita perlu melayani dengan lebih aktif menuju pelayanan manusia seutuhnya, baik kepercayaan kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat. Tetapi juga keselamatan seutuhnya sebagai layaknya tubuh yang menjadi gambar Allah!

Epilogos

Dengan adanya uraian – uraian singkat di atas, patutlah kita bersyukur bahwa pada masa kini terbuka luas pelayanan kaum Awan di gereja – gereja, dan perkembangan budaya dunia telah memungkinkan kaum Awam dilengkapi dengan berbagai macam potensi yang siap dikembangkan, hanya yang menjadi masalah sekang, sudah siapkah kita untuk mendaya gunakan semua potensi kaum Awam itu untuk perkembangan gereja dan pembangunan masyarakat ?

Rasul Paulus sendiri telah mengembangkan pelayanan kaum Awam (tent maker) dan dalam suratnya kepada jemaat di Tesalonika ia berkata

“Sebab kamu sendiri tahu, bagaimana kamu harus mengikuti teladan kami, karena kami tidak Ialai bekerja di antara kamu, dan tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun di antara kamu … kami memberitakan Injil Allah kepada kamu.” (II Tesalonika 3 :7 – 8 dan I Tesalonika 2 : 9).

Bagaimana jawab kita khususnya yang menjadi bagian dalam kaum Awam Kristen ? Sudah tiba saatnya bagi kita untuk secara aktif berperan serta dalam pertumbuhan gereja dan pembangunan masyarakat sebagai kesaksian iman kita ! Amin !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: